Makalah Teori Sastra Strukturalisme Dinamik



STRUKTURALISME DINAMIK

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Sastra
Dosen Pengampu : Bakti Sutopo M.A




Disusun oleh:
Kelompok 2  :1.Yeni utami (1220717032)
                      2. Winarsih   (1220717030)



PROGRAM STUDI BAHASA  DAN SASTRA INDONESIA
STKIP PGRI PACITAN
2013

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT, Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungn kita Nabi Muhammad SAW, keluarga dan sahabatnya sehingga atas berkat dan rahmatnya kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini dengan judul “STRUKTURALISME DINAMIK”. Adapun maksud penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah “TEORI SASTRA”.
Di dalam menyusun makalah ini kami benar-benar menyadari bahwa bentuk maupun isi dari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Mengingat kemampuan kami yang sangat terbatas, maka kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini.
Selanjutnya dengan hati yang ikhlas, kamimenyampaikan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1.      Bapak Bakti Sutopo M.A selaku dosen pengampu.
2.      Kepada teman-teman khususnya Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia terutama teman-teman kelas A Semester II
Mudah-mudahan semua kebaikan mereka mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT, Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Kamiberharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.










BAB I
PEMBAHASAN

A.  Prinsip-prinsip dasar  dan Pengetahuan strukturalisme Dinamik
1.    Prinsip dasar Strukturalisme dinamik
Karya sastra merupakan sebuah strukturalisme yang lahir sebagaai reaksi terhadap berbagai metode / pandangan / paham kritik sastra sebelumnya.

2.    Pengetahuan Strukturalisme Dinamik
Strukturalisme mulai ada karena adanya ketidakpuasan dan berbagai kritik atas formalism.Menurut Khun (dalam Ratna Kutha,2004:  89), sejarah strukturalisme pada umumnya adalah sejarah proses intelektualitas yang dibangun atas dasar kekuatan evolusi dan revolusi. Perkembangan teori tidak cukup hanya dibagun atas dasar akumulasi konsep, metode, dan berbagai pandangan dunia lainnya, tetapi juga memerlikan perubahan secara radikal yang pada gilirannya memicu proses percepatan teori-teori baru.
Menurut Kutha Ratna (2004:  88), bahasa bukan tumpukan kata-kata yang menjelaskan benda atau simbol tidak berhubungan dengan rujukan, melainkan terdiri dari penanda dan petanda dan berfungsi dalam sutu sistem sebagaimana makna tanda lalu lintas. Fungsi bahasa di sini bukan semata-mata menjelaskan benda, melainkan merupakan suatu satu kesatuan dan berada dalam suatu sistem sehingga warna merah pada lampu lalu lintas mengandung makna berhenti atau pertanda berhenti. Hal itu jelas berbeda jika warna merah tidak ada pada suatu sistem, contohnya tumpukan kertas warna-warni ditumpukan gudang atau pasar loak. Secara definitive, strukturalisme berarti paha mengenai unsur-unsur, yaitu hubungan antara struktur dan struktur atau hubungan antara unsur dan unsur secara totalitas. Hubungan tersebut bisa positif, yaitu terjadinya keselarasan dan kesinambungan, tetapi juga pertentangan, kesalahpahaman, dan pertikaian.
Struktur dengan sistem berbeda. Struktur adalah bentuk atau bangunan, sedangkan sistem merupakan suatu cara. Struktur menunjuk pada kata benda dan sistem menunjuk pada kata kerja. Jadi, sistm adalah cara kerja sebagaimana ditunjukkan oleh mekanisme antarhubungan sehingga terbentuk totalitas. Dalam karya sastra, analisis strukturalisme merujuk pada analisis unsure-unsur dalam karya sastra dalam mempertimbangkan perbedaan persepsi terhadap karya sastra. Unsur-unsur dalam prosa, seperti tema, peristiwa atau kejadian, latar atau setting, penokohan atau perwatakan, alur atau plot, sudut pandang, dan gaya bahasa. Unsur-unsur dalam puisi terdiri dari tema, stilistika atau gaya bahasa, imajinasi atau daya baying, ritme atau irama, riam atau persajakan, diksi atau pilihan kata, simbol, dan nada. Unsur-unsur dalam drama terdiri dari tema, dialog, peristiwa atau kejadian, latar atau setting, penokohan atau perwatakan, alur atau plot, dan gaya bahasa.

B.                 Struktural Dalam Konteks Semiotik
Menurut Saussure, orang yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa untuk memahami sistem tanda atau simbol dengan menggunakan analisis struktural dalam kehidupan masyarakat. Saussure mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, alasannya, karena bahan penelitiannya menggunakan bahasa yang bersifat otonom. Bahasa, menurut Saussure, adalah sistem tanda yang paling lengkap karena mengungkapkan gagasan struktural yang terungkap dalam sistem tanda dan simbol tersebut. Dengan demikian, bahasa hanyalah penting dalam sistem interdisipliner yang tercakup pada wilayah nilai dan makna sehingga memperkuat landasan filosofis yang kita analisis. Kajian Saussure memang tak lepas dari aspek linguistik, sehingga analisis strukturalisme yang digagasnya mempunyai relevansi dengan sistem tanda maupun bahasa. Itulah kenapa, strukturalisme berupaya mengisolasi struktur umum aktivitas manusia dengan mengaplikasikan analogi pertamanya dalam bidang linguistik. 
Seperti diketahui, bahwa lingiustik struktural melakukan empat perubahan dasar. Pertama, linguistik struktural bergeser dari kajian fenomena linguistik sadar ke kajian infratuktur tak sadarnya. Kedua, linguistik struktural tidak melihat pengertian sebagai entitas independen, dan menempatkan hubungan antar pengertian sebagai landasan analisisnya. Ketiga, linguistik struktural memperkenalkan konsep sistem. Keempat, berusaha menemukan sistem hukum umum.
Walaupun melakukan perubahan secara mendasar, strukturalisme yang digagas Saussure banyak mendapatkan kritik pedas dari berbagai filosofis yang kompeten dalam bidang strukturalisme. Salah satunya adalah Derrida yang secara tegas mengkritik landasan filosofis strukturalisme Saussure. Pertama, ia meragukan kemungkinan hukum umum. Kedua, ia mempertanyakan oposisi antara subjek dan objek, yang menjadi dasar diskripsi yang objektif. Menurut Derrida, diskripsi objek tidak dapat dilepaskan dari pola hasrat subjek. Ketiga, ia mempertanyakan struktur oposisi biner. Ia mengajak kita untuk memahami oposisi bukan dalam pengertian lain, tetapi harus didasarkan pada pemahaman yang holistik mengenai persamaan yang seimbang, sehingga tidak terjadi pertentangan gagasan yang hanya akan melahirkan kejumudan dalam ranah filsafat.
Namun demikian, kita harus yakin bahwa tujuan seluruh aktivitas strukturalis, dalam bidang pemikiran maupun bahasa adalah untuk membentuk kembali sebuah objek dan melalui proses ini, juga akan diperkenalkan aturan-aturan fungsi dari objek tersebut. Sehingga, strukturalisme secara efektif merupakan kesan objek (simulacrum) yang menghasilkan sesuatu yang bisa dilihat atau bahkan tidak menghasilkan ketidakjelasan dalam objek natural. Dalam konteks inilah, strukturalisme menekankan pada penurunan subjektivitas dan makna yanng berbeda dengan keutamaan sistem simbol, ketidaksadaran, dan hubungan sosial. 
Dalam model ini, makna bukan merupakan ciptaan dan tujuan subjek otonom transparan yang dibentuk melalui hubungan dalam bahasa, sehingga subjektivitas dilihat dalam konteks konstruksi sosial dan linguistik. Itulah sebabnya, kenapa parole atau kegunaan khusus bahasa oleh subjek-subjek individual ditentukan oleh langue, atau sistem bahasa itu sendiri. Analisis strukturalis baru dalam beberapa hal merupakan produk perubahan linguistik yang berakar dari teori semiotika Saussure. Ia berpendapat bahwa bahasa dapat dianalisa dalam hal hukum operasi terakhirnya, tanpa mengacu pada sifat dan evolusi historisnya, sehingga Saussure menginterpretasikan tanda linguistik (linguistic sign) sebagai sesuatu yang terbentuk dari dua bagian yang terkait secara integral atau sebuah komponen akuistik-visual, tanda dan komponen konseptual, dan petanda (signified). Maka tak berlebihan, kalau Saussure menekankan dua sifat bahasa yang merupakan nilai terpenting dalam memahami perkembangan teori kontemporer. Pertama, dia melihat tanda linguistik bersifat arbiter, yaitu tidak ada hubungan alamiah antara tanda dan penanda. Kedua, dia menekankan bahwa tanda merupakan sesuatu yang berbeda, yaitu sistem makna telah memperoleh signifikansinya. Karena di dalam bahasa, hanya terdapat perbedaan-perbedaan "tanpa term-term positif" .
Berangkat dari analisis strukturalisme di atas, gagasan yang paling mendasar dari Saussure tentang strukturalisme adalah sebagai berikut. Pertama, diakronis dan sinkronis. Yaitu, suatu bidang ilmu yang tidak hanya dapat dilakukan menurut perkembangannya, melainkan juga melalui struktur yang se zaman. Kedua, langue-parole. Langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual. Ketiga, sintagmatik dan paradikmatik (asosiatif). Sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan karena bersifat asosiatif (sistem). Keempat, penanda dan petanda. Saussure menampilkan tiga istilah dalam teori ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier), dan petanda (signified). 
Menurutnya, setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tak terpisahkan, karena masing-masing saling membutuhkan. Dengan demikian, gagasan strukturalisme Saussure lebih menekankan pada aspek linguistik yang berupa bahasa, sistem tanda(semiotik), simbol, maupun kode dalam bahasa itu sendiri. Sehingga tak heran, kalau Saussure dikenal sebagai bapak linguistik yang sangat kompeten dalam menganalisis makna dibalik teks bahasa maupun simbol-simbol yang melatarbelakanginya.
Bagi banyak orang, seperti ahli antropologi Claude Levi-Strauss, atau ahli sosiologi Pierre Bourdieu, atau ahli piskoanalisis Jacques Lacan, seperti jugan Roland Barthers dalam kritik sastra dan semiotika, pandangan Saussure ini membuka jalan bagi pendekatan yang lebih tajam dan sistematis terhadap ilmu-ilmu kemanusiaan, pendekatan yang berusaha secara serius untuk memahami keunggulan lingkup sosio-kultural pada manusia. 
Mungkin keberatan utama pada penerjemahan penekanan Saussure terhadap struktur ke dalam kehidupan sosial dan kultural adalah karena ia memberi cukup banyak kesempatan pada peranan praktek dan otonomi individu. Upaya kebebasan manusia sebagai hasil dari kehidupan sosial. Dan bukan sebagai asal usul atau sebab, menjadikannya di mata beberapa peneliti tampak agak terbatas. 

C.           Metode Struktur Dinamik
Strukturalisme disini sebagai proses membangun dalam berinteraksi satu sama lain dan mengembangkan kebudayaan mereka sendiri dengan tujuan sebagai reaksi terhadap evolusionisme positif dengan menggunakan metode-merode riset struktural yang dihasilkan oleh matematika, fisika dan ilmu-ilmu alam lainnya. Terciptanya berbagai dialektika dan usaha-usaha tersebut, sehingga strukturalisme mulai dikembangkan oleh beberapa filsuf seperti Claude Levi-Strauss (linguistic perancis), Jacques Lacan (Psikoanalisa), Roland Barthes (Kritik sastra) dan filsuf-filsuf strukturalis yang lain. Oleh karena itu, strukturalisme tidak hanya digunakan untuk bahasa saja sebagaimana seorang filsuf yang berdasar pada prinsip-prisip Sausure, akan tetapi digunakan dalam bidang yang lain.






















BAB II
SIMPULAN
Karya sastra merupakan sebuah strukturalisme yang lahir sebagaai reaksi terhadap berbagai metode / pandangan / paham kritik sastra sebelumnya. Strukturalisme mulai ada karena adanya ketidakpuasan dan berbagai kritik atas formalism. Menurut Saussure, orang yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa untuk memahami sistem tanda atau simbol dengan menggunakan analisis struktural dalam kehidupan masyarakat.



















BAB III
PENUTUP

              Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.



















DAFTAR PUSTAKA

http://www.anakunhas.com/2011/12/teori-teori-objektifformalismestrukturalismesimiotikdan-dekonstruksi.html. Diunduh pada  hari Kamis, 28 Maret 2013.
Hendriyanto, Agoes. 2013. Filsafat Bahasa.Surakarta: Yuma Pustaka.
http://pondokkajiansosial.blogspot.com/2010/01/sekilas-tentang-teori-strukturalisme.html. Diunduh pada hari Rabu, 03 April 2013.
http://jezen.blogspot.com/2010/02/strukturalisme.html. Diunduh pada hari Kamis, 28 Maret 2013.

Belum ada Komentar untuk "Makalah Teori Sastra Strukturalisme Dinamik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel