Makalah Filsafat Bahasa dan Pendidikan Karakter



BAHASA DAN PENDIDIKAN KARAKTER
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Bahasa
Dosen Pengampu : Agus Hendriyanto ,S.P,M.Pd.



PENDIDIKIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP PGRI PACITAN
2013




BAB I
PENDAHULUAN


Abstrak

Bahasa adalah budaya. Bahasa merupakan ciri dari budaya suatu daerah atau personal yang ada dalam diri seseorang. Berbahasa dengan baik, akan baik pula kepribadian dan pendidikan sesorang. Lalu bagaimana jika budaya salah satu masyarakat menjadi suatu hal yang sulit diterima masyarakat, bisa jadi karena salah satu faktor yaitu bahasa yang kurang tepat, dan itu bisa saja terjadi pada anak didik kita, jika tidak ditanamkan dari awal pentingnya ketepatan bahasa maka akan besar pengaruhnya terhadap budaya mereka dan pendidikan kedepannya.
Pendidikan sebagai tumpuhan pembentukan mental anak, harus dirancang sesuai kebutuhan kejiwaannya. Penanaman nilai dalam suatu pendidikan harus diterapakan, Pentingnya pendidikan karakter yang memasukkan unsur nilai penting seperti budi pekerti, pengetahuan, tindakan, dan kesemua itu dilakukan dengan tingkat kesadaran yang tinggi. Pada anak usia dini dianggap sebagai suatu hal penting. Penanaman sejak dini memberikan dampak besar bagi anak kedepannya.

A.      Pengantar
Kondisi masyarakat di zaman ini terlihat sangat memprihatinkan, di zaman modern ini teknologi semakin maju akan tetapi pendidikan karakter semakin rapuh dan cenderung di tinggalkan, banyak hal yang semestinya tidak layak dilakukan namun sampai sekarang masih saja terjadi. Perkelahian, perampokan, pembunuhan, korupsi, kolusi nepotisme, penipuan, bahkan sampai pelecehan seksual pun sampai sekarang masih saja terlihat. Yang paling parah yakni permainan kata seperti fitnah ada dimana – mana, adu domba hanya untuk kepentingan sepihak. Hal seperti dengan mudah dapat kita ketahui entah itu lewat media cetak ( Koran, majalah, dan artikel ), ataupun media media elektronik ( TV, Radio). Bahkan tidak jarang juga kondisi seperti itu dapat kita saksikan secara langsung dengan mata telanjang ditengah masyarakat.
Dalam berkomunikasi bahasa merupakan suatu keharusan dan modal yang mampu menunjukkan identitas diri. Baik dari situasi formal maupun non formal. Bahkan bahasa yang dianggap sebagai budaya berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak anak usia dini. Seseorang mulai mengenal bahasa sejak di lingkungan keluarga, kemudian berlanjut ke lingkungan sekolah, dan masyarakat. Ini semua yang disebut lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan memiliki pengaruh yang besar dalam pendidikan anak, karena proses pendidikan selalu berlangsung dalam lingkungan tertentu yang berhubungan dengan ruang dan waktu, karena hal tersebut lingkungan pendidikan harus diciptakan efektif dan semenarik mungkin terlebih mampu memberikan kontribusi lebih terhadap siswa, lalu bagaimana proses pendidikan yang berlangsung diluar sekolah, tentu saja besar pengaruhnya, lingkungan masyarakat terutama, selain di keluarga dan sekolah, lingkungan masyarakat merupakan lingkungan ketiga dalam proses pembentukan kepribadian seseorang sesuai keberadaannya.
      Keprihatinan terhadap kondisi masyarakat yang demikian itu mendorong munculnya semangat untuk meneliti dan mengkaji sebab muasal mengapa itu bisa terjadi dan mencari jalan keluar pemecahan masalah tersebut. Banyak hal yang dilakukan sebagai wujud rasa kepedulianya terhadap masalah itu. Penelitian secara langsung ataupun tak langsung telah banyak dilakukan, survey dengan masyarakat, sampai pengadaan seminar baik itu oleh instansa pemerintahan ataupun swasta.
                        Respon masyarakat terhadap pendidikan karakter sangat beragam. Seperti halnya dalam bahasa filsafat material boleh sama akan tetapi objek formal yang digunakan bisa bermacam – macam. karena satu pihak dengan pihak lainya mempunyai sudut pandang masing – masing tergantung pemahamanya ( Pangangan Dunia ). Mungkin di kalangan pendidik akan muncul pendapat tentang perlunya budi pekerti, sedangkan kaum agamawan memandang perlunya penguatan pendidikan agama yang akan lebih mendekatkan dirinya dengan Tuhan-nya.
            Dan mereka yang barkecimpung di dunia politik akan mengusulkan tentang revitalisasi pendidikan pancasila. Selanjutnya para seniman akan menganggap bahwa belum adanya suatu kreasi seni yang dapat mempersatukan jiwa mereka. Para guru terutama guru Bahasa Dan Sastra Indonesia sebagai ujung tombak pendidikan di Indonesia ingin mengekpresikan pemikiranya dengan mengatakan “ Pentingnya Bahasa Dan Sastra Galam Pembentukan Karakter Bangsa “.
           
B.       Rumusan Masalah
1.      Apakah karakter itu ?
2.      Bagaimana menanamkan pendidikan karakter itu?
3.      Adakah hubungan antara bahasa dengan pendidikan karakter?
4.      Bagaimana pendidikan karakter jika dilihat dari sudut pandang bahasa?
C.       Tujuan
Tujuan dalam Penulisan ini untuk memberikan informasi pada masyarakat tentang pentingnya bahasa sebagai salah satu faktor penanaman pendidikan karakter.
D.  Kajian Teori
Bahasa mempunyai peranan yang sangat penting dalam hidup manusia. Manusia sudah menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi antarsesamanya sejak berabad-abad silam. Bahasa hadir sejalan dengan sejarah sosial komunitas-komunitas masyarakat atau bangsa. Pemahaman bahasa sebagai fungsi sosial menjadi hal pokok manusia untuk mengadakan interaksi sosial dengan sesamanya. Keraf (1980:03) yang menyatakan bahwa bahasa apabila ditinjau dari dasar dan motif pertumbuhannya, bahasa berfungsi sebagai (1) alat untuk menyatakan ekspresi diri, (2) alat komunikasi, (3) alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, dan (4) alat untuk mengadakan kontrol sosial.
Empat fungsi yang diungkapkan Keraf diatas, salah satunya menunjukkan cara yang bisa dikatagorikan sebagai lingkungan pendidikan yaiu masyarakat.
Didalam lingkungan daerah yang terisolir maupun daerah yang jauh dari pusat kota, pendidikan diluar sekolah tentu saja yang berada dalam masyarakat sangat dibutuhkan, karena bagi daerah seperti ini lingkungan pendidikan yang menediakan ilmu pengetahuan, keterampilan, atau performans yang berfungsi dapat menggantikan pendidikan dasar utama. Pada ketetapan MPR nomor IV/MPR/1988 tentang garis garis besar haluan Negara pada bab IV yaitu pola umum pelita ke lima bagian pendidikan berbunyi sebagai berikut: “ Pendidikan merupakan proses budaya, untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia” pendidikan berlangsung seumur hidup dan dapat dilaksanakan didalam Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, karena itu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Sumarsono dan Paini Partana dalam Sosiolinguistik (2006, hal) menyatakan bahwa bahasa sebagai produk sosial atau produk budaya. Bahasa tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan manusia. Sebagai produk sosial atau budaya, bahasa berfungsi sebagai wadah aspirasi sosial, kegiatan dan perilaku masyarakat, dan sebagai wadah penyingkapan budaya termasuk teknologi yang diciptakan oleh masyarakat pemakai bahasa itu. Zainuddin juga mengutaran bahwa Bahasa diperoleh dengan belajar, maksudnya tiap orang belajar bahasa dari semenjak anak anak, dan lingkungan yang terdekat dan mampu memberikan pendidikan bahasa salah satunya lingkungan keluarga. (1985:19)
        
        Pendidikan berbasis karakter merupakan salah satu upaya dalam pembaharuan di dunia pendidikan, penanaman karakter pada anak dianggap sebagai hal pokok. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma yang berlaku Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter, (1) Keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. (2) Koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. (3) Otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain.(4) keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas. ”Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan format seorang pribadi dalam segala tindakannya. Pendapat Foerster ini semakin mendukung program pendidikan yang tidak hanya berfungsi sebagai lembaga yang memberdayakan anak dalam pengertian kecerdasan dan keterampilan melainkan program pendidikan juga menadarkan tentang pentingnya menjaga moralitas dan peningkatan kemampuan pertimbangan rasional dalam pengambilan keputusan. Apabila segala fenomena tentang pentingnya pendidikan tidak terealisasi dengan baik, maka keberhasilan pemperhati pendidikan karakter akan mengalami kegagalan. Dampak yang dinilai sangat mempengaruhi pendidikan anak adalah Lingkungan, baik keluarga, sekolah maupun masyarakat, dan pemberian pendidikan akan tersampaikan dengan baik jika penggunaan bahasa diberikan dengan tepat. Bahasa yang sopan,baik dan tidak mampu membuat anak merasa tertekan. Bahasa dapat pula berperan sebagai alat integrasi sosial sekaligus alat adaptasi sosial, hal ini mengingat bahwa bangsa Indonesia memiliki bahasa yang majemuk. Kemajemukan ini membutuhkan satu alat sebagai pemersatu keberseragaman tersebut. Di sinilah fungsi bahasa sangat diperlukan sebagai alat integrasi sosial. Bahasa disebut sebagai alat adaptasi sosial apabila seseorang berada di suatu tempat yang memiliki perbedaan adat, tata krama, dan aturan-aturan dari tempatnya berasal. Proses adaptasi ini akan berjalan baik apabila terdapat sebuah alat yang membuat satu sama lainnya mengerti, alat tersebut disebut bahasa.
Ada pengaruh penting terhadap pendidikan karakter yaitu bahasa adalah seperangkat kebiasaan, kebiasaan bisa dikatakan adat, dalam situs Wikipedia menyebutkan bahwa adat ialah Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku yang dianggap menyimpang. Stevick dalam Sudana menyatakan maksud dari pengajaran bahasa adalah, meningkatkan harga diri, menumbuhkan pikiran positif, meningkatkan pemahaman diri, menumbuhkna keakraban dengan orang lain, dan mampu menemukan kelebihan dan kelemahan diri. Dari pernyataan tersebut maksud pengajaran bahasa berorientasi pada pemerolehan nilai sesuai pendidikan karakter yaitu, menumbuhkan pikiran positif dan menumbuhkan keakraban dengan orang lain.


















BAB II
PEMBAHASAN

1.Apakah karakter itu ?
            Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sifat – sifat kejiwaan , akhlaq, atau  budi pekerti. Karakter dapat diartikan sebagai tabiat yaitu perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan atau kebiasaan. Suyanto berpendapat bahwa, Karakter itusebagai cara berfikir dan berperilaku yang menjadikan cirri khas tiap individu untu hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa atau Negara.
           

2. Bagaimana cara menanamkan pendidikan karakter ?
            Pendidikan karakter sebaiknya di ajarkan dengan menyesuaikan sasaranya atau objek yang akan dituju. Akan tetapi pendidikan karakter yang diinginkan ialah pendidikan karakter yang mudah dipahami dan dimengerti, baik dikalangan pelajar maupun masyarakat umum. Bahasa diberikan pada lingkungan pendidikan, dan dimulai dari usia anak anak, sehingga penanaman nilai nilai yang diberikan sejak anak anak dinilai lebih maksimal dari pada diberikan pada usia dewasa.

Pendidikan karakter menurut saya terbagi menjadi tiga tahap yaitu :
a)      Pengetahuan tentang kebaikan , tahap ini ialah tahap awal dalam pembentukan karakter  yang baik. Ini mudah untuk diajarkan, karena banyak sekali sumbernya terutama buku yang mengajarkan tentang kebaikan. Dan untuk sekarang ini  sudah banyak yang mengajarkan mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga perguruan tinggi. Pengetahuan tentang kebaikan juga dapat tumbuh dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak – anak yang sudah pubertas sebagian besar sudah dapat menbeda – bedakan antara yang baik dan yang buruk  yang haq dan yang bathil.
b)      Perlunya menumbuhkan perasaan senang dan cinta terhadap kebaikan . anak – anak yang sudah dewasa memang kebanyakan dapat membedakan yang baik dan yang buruk akan tetapi belum tentu ia dapat menumbuhkan rasa senang ataupun cinta dalam dirinya terhadap kebaikan. Maka dari itu ini adalah tahap yang paling sulit untuk diterapkan syarat yang harus terpenuhi agar tahap ini dapat terlaksana ialah pengetahuan tentang kebaikan yang ada pada tahap pertama. Jadi antara tahap yang pertama dan yang kedua sangat erat kaitanya. Kesulitan dalam tahap ini karena rasa cinta terhadap kebaikan itu akan muncul apabila kesadaranya pun juga tumbuh sehingga kita harus menumbuhkan rasa kesadaranya akan pentingnya kebaikan. Selain itu perlu adanya teladan yang patut di jadikan contoh. Jika kita menyampaikan kebaikan lewat lisan maka hanya akan diletakkan disamping telinga, jika kita menyampaikan kebaikan lewat hati maka kebaikan itu akan masuk sampai kehati, begitu pula jika kita menyampaikan kebaikan lewat akal maka akan masuk sampai ke akal.
c)      Melakukan perbuatan baik,  perasaan senang atau cinta terhadap kebaikan diharapkan dapat menjadi mesin penggerak . sehingga akan menjadikan seseorang secara suka rela melakukan perbuatan yang baik. Pada tahap ini disebut juga tahap untu mengambil tindakan ( action ). Setelah seseorang mengetahui tentang kebaikan dan sudah menyukai kebaikan maka mereka akan terus menjaga agar kebaikan itu tidak hilang dari dirinya. Mereka mengangap bahwa kebaikan adalah bagian dari hidup.
Dalam penanaman pendidikan karakter yang paling utama adalah keteladanan . orang tua memberikan perilaku dan contoh yang positif kepada anak – anaknya. Guru memberi contoh  kepada  anak didiknya. Sementara itu, para pemimpin memberikan teladan karakter yang baik kepada masyarakat
Penanaman pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan dengan berbagai strategi. Strategi yang dapat dilakukan antara lain (1) memasukkan pendidikan karakter ke dalam semua mata pelajaran di sekolah, (2) membuat slogan-slogan atau yel-yel yang dapat menumbuhkan kebiasaan semua masyarakat sekolah untuk bertingkah laku yang baik,(3) membiasakan perlaku yang positif di kalangan warga sekolah, dan  (4) melakukan pemantauan secara kontinyu, (5)  memberikan hadiah (reward) kepada warga sekolah yang selalu berkarakter baik.
3. Adakah hubungan bahasa dengan pendidikan karakter?
Bahasa menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti sistem bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.Sedangkan menurut para ahli :
PLATO
            Bahasa pada dasarnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut
CARROL
            Bahasa adalah sebuah sistem berstruktural mengenai bunyi dan urutan bunyi bahasa yang sifatnya manasuka, yang digunakan, atau yang dapat digunakan dalam komunikasi antar individu oleh sekelompok manusia dan yang secara agak tuntas memberi nama kepada benda-benda, peristiwa-peristiwa, dan proses-proses dalam lingkungan hidup manusia
SUDARYONO
            Bahasa adalah sarana komunikasi yang efektif walaupun tidak sempurna sehingga ketidaksempurnaan bahasa sebagai sarana komunikasi menjadi salah satu sumber terjadinya kesalahpahaman.
Dapat disimpulkan bahwa Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Mungkin ada yang keberatan dengan mengatakan bahwa bahasa bukan satu-satunya alat untuk mengadakan komunikasi. Mereka menunjukkan bahwa dua orang atau pihak yang mengadakan komunikasi dengan mempergunakan cara-cara tertentu yang telah disepakati bersama.  Lukisan-lukisan, asap api, bunyi gendang atau tong-tong dan sebagainya. Tetapi mereka itu harus mengakui pula bahwa bila dibandingkan dengan bahasa, semua alat komunikasi tadi masih kalah dengan bahasa
 Bahasa memberikan kemungkinan yang jauh lebih luas dan kompleks daripada yang dapat diperoleh dengan mempergunakan media tadi. Bahasa haruslah merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bukannya sembarang bunyi. Dan bunyi itu sendiri haruslah merupakan simbol atau perlambangan.

4. Bagaimana pendidikan karakter  jika dilihat dari sudut pandang bahasa ?
Bahasa mencerminkan bangsa. satu butir sumpah pemuda adalah menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia Itulah kira-kira gambaran bagaimana hubungan bahasa dengan pendidikan karakter. Dalam beberapa hal  variasi bahasa mampu menunjukkan karakter dan meningkatkan karakter penuturnya.
Lebih jauh bahasa yang notabene alat komunikasi mempunyai dampak yang besar terhadap perilaku manusia. Hal tersebutlah yang meyakini setiap tuturan yang diucapkan manusia mempunyai karakter tersendiri. Apabila kaum akademisi dan masyarakat peka terhadap hal ini tentu saja kesusahan dalam mencari model pendidikan karakter di sekolah dapat teratasi.Oleh sebab perihal tersebut, adanya inovasi dalam perbaikan pendidikan di negara kita antara lain dengan adanya pendidikan karakter, Koesuma dalam artikelnya menyatakan tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial si subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya.        
Bagi Foerster, karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter seperti inilah, kualitas seseorang secara pribadi mampu diukur Pendidikan berbasisi karakter merupakan salah satu upaya dalam pembaharuan di dunia pendidikan, besar pengaruh penanaman karakter pada anak dianggap sebaga hal pokok. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan..
Menurut Foerster ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter, (1) Keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. (2) Koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau takut risiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi meruntuhkan kredibilitas seseorang. (3) Otonomi. Di situ seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat dilihat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain.(4) keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih. Kematangan keempat karakter ini, lanjut Foerster, memungkinkan manusia melewati tahap individualitas menuju personalitas.
Orang-orang modern sering mencampuradukkan antara individualitas dan personalitas, antara aku alami dan aku rohani, antara independensi eksterior dan interior.” Karakter inilah yang menentukan format seorang pribadi dalam segala tindakannya. Pendapat Foerster ini semakin mendukung program pendidikan yang tidak hanya berfungsi sebagai lembaga yang memberdayakan anak dalam pengertian kecerdasan dan keterampilan melainkan program pendidikan juga menadarkan tentang pentingnya menjaga moralitas dan peningkatan kemampuan pertimbangan rasional dalam pengambilan keputusan. Apabila segala fenomena tentang pentingnya pendidikan tidak terealisasi dengan baik, maka keberhasilan pemperhati pendidikan karakter akan mengalami kegagalan. Dampak yang dinilai sangat mempengaruhi pendidikan anak adalah Lingkungan, baik keluarga, sekolah maupun masyarakat. Dan pemberian pendidikan akan tersampaikan dengan baik jika penggunaan bahasa diberikan dengan tepat. Bahasa yang sopan,baik dan tidak mampu membuat anak merasa tertekan. Bahasa dapat pula berperan sebagai alat integrasi sosial sekaligus alat adaptasi sosial, hal ini mengingat bahwa bangsa Indonesia memiliki bahasa yang majemuk. Kemajemukan ini membutuhkan satu alat sebagai pemersatu keberseragaman tersebut. Di sinilah fungsi bahasa sangat diperlukan sebagai alat integrasi sosial. Bahasa disebut sebagai alat adaptasi sosial apabila seseorang berada di suatu tempat yang memiliki perbedaan adat, tata krama, dan aturan-aturan dari tempatnya berasal. Proses adaptasi ini akan berjalan baik apabila terdapat sebuah alat yang membuat satu sama lainnya mengerti, alat
Kartomiharjo (1982:1) menguraikan bahwa salah satu butir sumpah pemuda adalah menjunjung tinggi bahasa persatuan,bahasa Indonesia. Dengan demikian bahasa dapat mengikat anggota-anggota masyarakat pemakai bahasa menjadi masyarakat yang kuat, bersatu, dan maju. Lalu bagaimana bahasa mulai bias dikatakan berpengaruh terhapa proses pemberian pendidikan karakter, ada lima slogan yang dikumandangkan oleh para pengamat AM/Moulton, 1961, dalam “ International Congress of Linguistic”, yakni: (a) Bahasa adalah Lisan, bukan tulisan (b) Bahasa adalah seperangkat kebiasaan (c) yang diajarkan adalah bahasa, bukan tentang bahasa (d) bahasa adalah yang diajarkan oleh si penutur asli (e) bahasa adalah berbeda beda. (Subana,2000:23). Dari slogan trsebut ada satu hal yang dianggap berpengaruh penting terhadap pendidikan karakter yaitu bahasa adalah seperangkat kebiasaan, kebiasaan bisa dikatakan adat, dalam situs Wikipedia menyebutkan bahwa adat ialah Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah. Apabila adat ini tidak dilaksanakan akan terjadi kerancuan yang menimbulkan sanksi tak tertulis oleh masyarakat setempat terhadap pelaku yang dianggap menyimpang.

















BAB III
PENUTUP

SIMPULAN

Kondisi masyarakat di zaman ini terlihat sangat memprihatinkan, teknologi semakin maju akan tetapi pendidikan karakter semakin rapuh dan cenderung di tinggalkan. Hal itu dapat dilihat dari pernyataan berbagai media. Sehingga memunculkan banyak pemikiran - pemikiran yang berbeda tergantung pada bidang yang ditukanginya.
            Karakter merupakan tingkah laku seseorang akan tetapi karakter lebih condong kepada kebiasaan yang sering dilakukan, karakter bisa saja baik akan tetapi juga ada yang buruk. Karakter adalah cirri khas, sehingga tiap individu akan berbeda walaupum ada yang sama akan tetapi tidak mungkin persis satu dengan yang lainya..
Setelah membaca dan memahami serta menganalisis Pengaruh dan keterkaitan bahasa terhadap pendidikan karakter dapat disimpulakan sebagai berikut:
1. Bahasa merupakan suatu hal yang dianggap perlu untuk dilaksanakan pada lingkungan pendidikan, karena Pemerolehan bahasa dikaitkan dengan penguasaan sesuatu bahasa tanpa disadari atau dipelajari secara langsung yaitu tanpa melalui pendidikan secara formal untuk mempelajarinya, sebaliknya memperolehnya dari bahasa yang dituturkan oleh ahli masyarakat di sekitarnya.
2. Bahasa diberikan pada lingkungan pendidikan, dan dimulai dari usia anak anak, sehingga penanaman nilai nilai yang diberikan sejak anak anak dinilai lebih maksimal dari pada diberikan pada usia dewasa






Daftar Pustaka

Harimurti Kridalaksana.2008. Kamus Linguistik (edisi ke-Edisi Keempat). Jakarta: ……..Gramedia Pustaka Utama
……...(online),(http://wismasastra.wordpress.com),diakses 08 Agustus 2011.
Ayuyanti,Aisiyah.2011.Pengertian Dan Fungsi ……..Bahasa,(online),(http://kangarul.wordpress.com),diakses 08 Agustus 2011

1 Komentar untuk "Makalah Filsafat Bahasa dan Pendidikan Karakter"

  1. makalah nya sangat bagus, memang sangat penting menanmkan pendidikan karakter di sekolah, agar siswa lebih baik dan mempunyai karakter, kami juga ada solusi agar siswa tidak bolos, guru dan orang tua bisa memantau kedisiplinan, yu kunjungi website kami ABSENSI SISWA

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel