Makalah Pragmatik “Maksim Kerjasama”

Makalah Pragmatik “Maksim Kerjasama”

PENDAHULUAN
Berbahasa adalah aktivitas sosial. Seperti halnya aktivitas-aktivitas sosial yang lain, kegiatan berbahasa baru terwujud apabila manusia terlibat di dalamnya. Di dalam berbicara, penutur dan mitra tutur sama-sama menyadari bahwa ada kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya. Setiap peserta tindak tutur bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual itu (Allan dalam Putu,1996).
Saat ini ilmu pragmatik sudah tidak asing lagi di telinga. Ilmu ini muncul untuk menangani ilmu-ilmu kebahasaan lainnya yang mulai "angkat tangan" terhadap tuturan yang secara struktur melanggar kaidah atau tidak sesuai dengan prinsip.
Pernyataan Allan yang berbunyi "Setiap peserta tindak tutur bertanggung jawab terhadap tindakan dan penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual itu…", menggambarkan bahwa penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan sering terjadi. Penyimpangan dalam tuturan memang sering terjadi, baik itu secara struktur kalimat atau pun terhadap prinsip. Penyimpangan terhadap struktur kalimat sudah tentu dapat diatasi oleh ilmu sintaksis dan "kawan-kawan", namun beda lagi dengan pelanggaran terhadap prinsip. Pelanggaran terhadap prinsip ini hubungannya dengan makna secara eksternal dan situasi tuturan, sehingga ilmu yang cocok untuk menangani masalah ini adalah ilmu pragmatik.

PEMBAHASAN
Pengertian Pragmatik
Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari aspek pemakaian aktualnya. Leech (1983:5-6) menyatakan bahwa pragmatik mempelajari maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang seseorang maksudkan dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepada siapa, di mana, bilamana, dan bagaimana.
Dalam tulisan Putu Wijana diungkapkan bahwa ilmu pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang menelaah makna-makna satuan lingual secara eksternal. Yule (1996: 3), misalnya, menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.
Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama, dengan menggunakan sudut pandang sosial, menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua, dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). 
Selanjutnya Thomas (1995: 22), dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik, sosial, dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran, mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction).
Leech (1983: 6) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme, yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik; pragmatisisme, yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik; dan komplementarisme, atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi.
Pengertian Maksim
    Maksim merupakan kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual; kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya. Selain itu maksim juga disebut sebagai bentuk pragmatik berdasarkan prinsip kerja sama dan prinsip kesopanan.
Maksim Kerja Sama
Dalam komunikasi yang wajar agaknya dapat diasumsikan bahwa seorang penutur mengartikulasikan ujaran dengan maksud untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada lawan bicaranya, dan berharap lawan bicaranya dapat memahami apa yang hendak dikomunikasikan itu. Untuk itu penutur selalu berusaha agar tuturannya selalu relevan dengan konteks, jelas, mudah dipahami, padat dan ringkas (concise), serta selalu pada persoalan (straight forward), sehingga tidak menghabiskan waktu lawan bicaranya.
Bila dalam suatu percakapan terjadi penyimpangan, ada implikasi-implikasi tertentu yang hendak dicapai oleh penuturnya. Bila implikasi itu tidak ada, maka penutur yang bersangkutan tidak melaksanakan kerjasama atau tidak bersifat kooperatif. Jadi, secara ringkas dapat diasumsikan bahwa ada semacam prinsip kerja sama yang harus dilakukan pembicara dan lawan bicara agar proses komunikasi itu berjalan lancar.
Grice berpendapat bahwa di dalam rangka melaksanakan prinsip-prinsip kerja sama itu, setiap penutur harus mematuhi empat maksim percakapan (conversational maxim), yakni maksim kuantitas (maxim of quantity), maksim kualitas (maxim of quality), maksim relevansi (maxim of relevance), dan maksim pelaksanaan (maxim of manner).
a. Maksim Kuantitas
Maksim kuantitas menghendaki setiap peserta pertuturan memberikan kontribusi yang secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan oleh lawan bicaranya atau pembicara memberikan informasi yang cukup, relatif dan seinformatif mungkin.
Contoh yang sesuai:
    A : Apakah Anda sudah mengerjakan tugas?
    B : Ya, sudah.
Contoh yang tidak sesuai:
    A : Apakah Anda sudah mengerjakan tugas?
B : Belum. Kemarin saya berlibur di rumah nenek di Yogya. Sampai rumah sudah larut sehingga saya tidak sempat mengerjakan tugas.
b. Maksim Kualitas
Maksim kualitas mewajibkan setiap peserta percakapan mengatakan sesuatu yang nyata dan sesuai dengan fakta sebenarnya. Kontribusi peserta percakapan hendaknya didasarkan pada bukti-bukti yang memadai. Apabila patuh pada prinsip ini, jangan pernah mengatakan sesuatu yang diyakini bahwa itu kurang benar atau tidak benar.
Contoh yang sesuai:
    A : Kamu tahu, Eko kuliah dimana?
    B : di ITB.
Contoh yang tidak sesuai:
    A : Kamu tahu, Eko kuliah dimana?
    B : Dia tidak kuliah di UNJ seperti kita, tapi di ITB.
c. Maksim Relevansi
Maksim relevansi mengharuskan setiap peserta tutur dapat memberikan kontribusi yang relevan (sesuai) tentang sesuatu yang sedang dipertuturkan.
Contoh yang sesuai:
    A : Dimana kotak permenku?
    B : Di kamar belajarmu.
Contoh yang tidak sesuai:
    A : Dimana kotak permenku?
    B : Saya harus segera pergi kuliah.
d. Maksim Pelaksanaan
Maksim pelaksanaan mengharuskan setiap peserta percakapan berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa, dan tidak berlebih-lebihan, serta runtut.
Contoh yang sesuai:
    A : Siapa teman Anda yang orang Korea itu?
    B : KIM EOK SOO
Contoh yang tidak sesuai:
A : Siapa teman Anda yang orang Korea itu?
    B : K-I-M E-O-K S-O-O
Penerapan Maksim Kerja Sama
    Selain contoh-contoh yang telah penulis kemukakan di atas, dalam makalah ini pun penulis memberikan contoh penerapan maksim kerja sama yang lebih konkrit yang diambil dari sebuah skripsi karya Hidayati dengan judul "ANALISIS PRAGMATIK HUMOR NASRUDDIN HOJA" yang didapat melalui internet dengan alamat berikut:
"http://www.docstoc.com/docs/DownloadDoc.aspx?doc_id=25994242"
Penciptaan Kelucuan dengan Maksim Kerja Sama
    Penciptaan efek lucu pada wacana humor bisa dilakukan dengan melanggar maksim-maksim percakapan Grice. Bila dilihat dari pandangan Grice tentang kaidah-kaidah maksim percakapan, banyak pelanggaran yang dilakukan oleh Nasruddin. Namun demikian, dalam beberapa humornya, Nasruddin tetap mematuhi maksim-maksim percakapan Grice.
  1. Penciptaan Kelucuan dengan Maksim Kuantitas
    Seperti diketahui bersama bahwa dalam percakapan dengan orang lain diharapkan memberikan respons atau jawaban secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan lawan tutur.
Penyelundup
Ada kabar angin bahwa Nasruddin juga berprofesi sebagai penyelundup. Maka, setiap kali Nasruddin melewati batas wilayah, penjaga gerbang menggeledah jubahnya yang berlapis-lapis dengan teliti. Tetapi tidak ada hal mencurigakan yang ditemukan. Untuk mengajar, Nasruddin memang sering harus melintasi batas wilayah.
Suatu malam, salah seorang penjaga mendatangi rumahnya. "Aku tahu, Mullah, engkau penyelundup. Tetapi aku menyerah, karena tidak pernah bisa menemukan barang selundupanmu.
Sekarang, jawablah kepenasaranku, apa yang engkau selundupkan?"
"Jubah," jawab Nasruddin serius.
                                    (CJNH:41)
    Wacana di atas juga dengan jelas menunjukkan terjadinya maksim kuantitas. Pada sebuah percakapan Nasruddin menjawab secukupnya saja. Nasruddin ditanya; "….apa yang engkau selundupkan?" Lalu Nasruddin menjawab; "Jubah."Jawaban itu singkat dan cukup untuk menjawab sebuah pertanyaan yang tersebut di atas. Kepatuhan Nasruddin pada maksim kuantitas itulah yang sekaligus menjadi letak kelucuan dari cerita "Penyelundup" di atas. Tidak terpikirkan oleh si penjaga gerbang kalau yang diselundupkan Nasruddin itu adalah jubah. Penjaga gerbang tidak pernah curiga atau setidaknya timbul sebuah pertanyaan mengapa Nasruddin selalu memakai jubah berlapis-lapis padahal si penjaga sudah mengetahui bahwa Nasruddin adalah seorang penyelundup. Dalam pikiran penjaga Nasruddin itu menyelundupkan barang-barang berharga, obat-obatan terlarang atau lainnya yang pasti bukan jubah. Karena presuposisi yang salah, si penjaga tidak menemukan bukti untuk menangkap Nasruddin. Presuposisi yang salah dari penjaga ditambah kejujuran Nasruddin itulah yang menjadikan lucu cerita "Penyelundup" di atas.
  1. Penciptaan Kelucuan dengan Maksim Kualitas
Maksim kualitas mengharuskan setiap partisipan komunikasi mengatakan hal yang sebenarnya. Seperti halnya pada penciptaan kelucuan dengan maksim kuantitas, Nasruddin dapat menciptakan humornya baik dengan mematuhi maupun melanggar maksim kualitas.
Ingin yang Instan
Suatu pagi, Nasruddin didapati tetangganya sedang memberi minum ayamnya dengan air panas. Si tetangga heran dan bertanya, "Wahai Nasruddin, mengapa Anda memberi minum ayam itu dengan air panas?"
"Aku ingin ketika nanti ia bertelur, yang keluar langsung telur rebus!"
Si tetangga hanya bisa melongo.
                                (TMHBNH:80)
Pertanyaan tetangga Nasruddin yang heran dengan kelakuannya dijawab Nasruddin dengan yang sebenarnya menurut pemikirannya. Bukan Nasruddin kalau tidak punya hal-hal yang aneh sehingga menjadi pertanyaan banyak orang. Hanya orang-orang yang mampu mengambil makna yang mendalam saja yang menilai jawaban Nasruddin itu tidak aneh, justru jawaban Nasruddin itu mengandung nasihat yang fenomenal. Bahwa manusia sangat suka dengan yang instan-instan dalam memenuhi semua keinginannya, tapi perlu diingat jangan memilih cara instan yang merugikan atau menyesatkan.
Satu Sen Hilang
Ketika sedang duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai, Nasruddin melihat sepuluh orang buta ingin menyeberangi sungai. Dia mewarkan bantuan kepada mereka dengan bayaran satu sen per orang.
Mereka setuju, dan sang Mullah pun memulai pekerjaannya.
Sembilan orang telah selamat sampai ke tepi sungai. Tetapi orang kesepuluh rupanya memiliki sifat nyleneh. Ketika diberi tahu agar melangkah ke kiri, dia melangkah ke kanan sehingga dia terpeleset ke sungai dan hanyut dibawa air.Merasa ada sesuatu yang salah, kesembilan orang yang selamat mulai berteriak, "Apa yang terjadi Mullah?"
"Aku kehilangan uang satu sen."
                                    (CJNH:25)
Ada dua kemungkinan jawaban Nasruddin pada cerita di atas yaitu, antara Nasruddin patuh dan melanggar maksim kualitas. Kalau dilihat dari kepentingan sekelompok orang buta yang butuh keselamatan semua anggotanya, jelas Nasruddin melanggar maksim kualitas karena dia tidak mengatakan yang sebenarnya terjadi. Nasruddin tidak mengatakan kalau satu anggota dari sepuluh orang buta yang harus dia seberangkan hanyut di sungai. Kalau dilihat dari kepentingan Nasruddin yang membutuhkan uang, dia tidak melanggar maksim kualitas karena Nasruddin menjawab yang sebenarnya terjadi. Nasruddin memang kehilangan uang satu sen gara-gara orang buta yang dia seberangkan terpeleset dan hanyut di sungai. Implikasi Nasruddin adalah implikasi yang logis dan sebuah hubungan yang mutlak bahwa satu orang buta sama dengan uang satu sen. 
  1. Penciptaan Kelucuan dengan Maksim Relevansi
Maksim relevansi mengharuskan setiap peserta percakapan untuk memberikan respons atau jawaban yang relevan dengan topik percakapan. Namun terkadang jawaban yang diberikan tidak secara eksplisit, sebab sudah ada pengetahuan yang sama antara penutur dan lawan tutur tentang topik pembicaraan. 
Ayam Betina dan Ayam Jantan
Nasruddin diajak teman-temannya ke sebuah pemandian Turki. Tanpa sepengetahuan Nasruddin, teman-temannya masing-masing membawa sebutir telur.
Ketika mereka sudah memasuki kamar mandi uap, temannya berkata, "Ayo, kita sama-sama membayangkan bahwa kita semua ini ayam betina yang sedang bertelur. Siapa yang gagal bertelur, dia harus membayar ongkos mandi untuk semua orang yang ada di ruang ini."
Nasruddin setuju.
Tak lama kemudian, masing-masing temannya mulai menunjukkan telurnya. Ketika mereka meminta Nasruddin menunjukkan hasil kerjanya. Nasruddin berkokok menirukan suara ayam.
"Di antara begitu banyak ayam betina," kata Nasruddin, "tentu harus ada ayam jantannya."
                                    (CJNH:144)
Jawaban Nasruddin tersebut di atas adalah sebuah jawaban yang relevan. Teman-teman Nasruddin mengajak bermain ayam betina bertelur tetapi itu untuk mengelabui Nasruddin saja karena mereka ingin mandi uap dengan gratis. Semua sudah mempersiapkan telur dan mengeluarkannya kecuali Nasruddin. Nasruddin yang cerdas segera mencari akal dan hasilnya dia berkokok seperti ayam jantan. Alasannya, di antara begitu banyak ayam betina yang bertelur tentu ada ayam jantan. Jadi, dalam cerita ini Nasruddin tidak melakukan pelanggaran terhadap maksim relevansi karena dia memberikan kontribusi yang relevan sesuai dengan topik pembicaraan. 
Jawaban Nasruddin di atas juga sebuah implikasi yang logis dan mempunyai hubungan yang bersifat mutlak. Adanya ayam betina yang bertelur pasti ada peran ayam jantan karena tidak mungkin ayam betina bertelur tanpa dibuahi ayam jantan terlebih dahulu. 
Aku Bukan Pedagang Hari dan Bulan
"Hari apa dan bulan apa sekarang?" Tanya seorang laki-laki kepada Nasruddin.
"Kalau aku pedagang hari dan bulan, tentu akan aku jawab pertanyaanmu itu,"jawab Nasruddin.
                                    (CJNH:77)
Percakapan di atas, Nasruddin tidak lagi mematuhi maksim relevansi artinya, Nasruddin sebagai peserta komunikasi tak lagi memberikan respons atau jawaban yang relevan. Ketika ditanya; "Hari apa dan bulan apa sekarang?"Nasruddin malah menjawab tidak sesuai dengan pertanyaan, "Kalau aku pedagang hari dan bulan, tentu akan aku jawab pertanyaanmu itu." Seseorang bertanya kepada Nasruddin tentang hari dan bulan apa sekarang, seharusnya Nasruddin cukup menjawab, misalnya senin bulan Mei atau mungkin yang lainnya, bukannya menjawab seperti yang tersebut tadi. Jawaban Nasruddin itu sungguh tidak relevan dengan pertanyaan yang diajukan oleh seseorang. Ditambah lagi mana ada orang yang berdagang hari dan bulan karena memang hari dan bulan bukanlah barang dagangan. Itu adalah sebuah ungkapan yang tidak logis. Dari nada jawaban Nasruddin, dia sedang kesal. Bisa jadi Nasaruddin sedang kesal dengan orang yang bertanya itu sehingga dia menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang tidak sesuai. Tentang pertanyaan hari dan bulan Nasruddin mengimplikasikan seseorang yang bertanya itu adalah seorang pembeli, karena Nasruddin bukan seorang penjual atau pedagang maka dia menjawab; "Kalau aku pedagang hari dan bulan, tentu akan aku jawab pertanyaanmu itu." Kelucuan cerita di atas tercipta dari pelanggaran Nasruddin terhadap maksim relevansi. 
  1. Penciptaan Kelucuan dengan Maksim Pelaksanaan
    Maksim pelaksanaan adalah maksim yang mengharuskan bahwa setiap peserta percakapan dapat memberikan informasi secara langsung, tidak taksa, dan runtut. Apabila hal ini dilanggar tentunya orang tersebut mempunyai tujuan tertentu. 
Malu kepada Allah
Ketika Nasruddin sedang duduk-duduk di depan rumahnya, seorang tetangganya yang terkenal kaya raya mendatanginya dan memberinya 500 dirham sambil berkata,"Aku mohon keikhlasan Anda mendoakan kebaikan dan kejayaan untukku setiap Anda selesai shalat lima waktu."
Nasruddin menerima uang itu, menghitungnya, lalu menyisihkan 100 dirham dan mengembalikannya kepada si pemberi. Si tetangga kaya itu bingung.
"Lo, kok dikembaliin?"
"Aku malu kepada Allah karena shalat subuhku sering terlambat, jadi aku terima uang ini hanya untuk empat waktu shalat saja," jawab Nasruddin.
                            (HJNH:138)
    Nasruddin mematuhi maksim pelaksanaan dalam wacana di atas. Dia memberikan respon atau jawaban dengan jelas. Dia tidak mau menerima uang yang seratus dirham karena dia sadar kalau salah satu salatnya sering terlambat. Permintaan si pemberi uang 500 dirham kepada Nasruddin untuk mendoakannya setiap selesai salat lima waktu itu membuat Nasruddin beranalogi bahwa setiap doanya habis salat lima waktu itu seharga seratus dirham. Karena salat subuh Nasruddin sering terlambat, dia sangat malu kepada Allah untuk berdoa. Oleh karena itu, dia mengembalikan yang seratus dirham sebab dia tidak menyanggupi doa yang setelah salat subuh. Sangat jelas Nasruddin memberikan alasan atau jawaban kenapa dia menegembalikan yang seratus dirham kepada tetangga yang memberinya uang itu. Kepatuhan Nasruddin terhadap maksim pelaksanaan dalam cerita di atas mungkin tidak banyak mengundang tawa tetapi hanya tersenyum kemudian memikirkan sejenak arti dari kisah Nasruddin tersebut. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah Nasruddin tersebut kalau mau mempelajari lebih dalam disamping bisa tersenyum karena terhibur.
Cara Tuhan
Pada suatu hari empat anak laki-laki mendekati Mullah dan memberinya sekantong kenari sambil bertanya: "Mullah, kami tidak bisa membagi kenari ini secara merata di antara kami, dapatkah Anda menolong kami?"
Mullah balik tanya, "Distribusinya apa ingin menurut cara Tuhan atau cara makhluk hidup?"
"Cara Tuhan," jawab anak-anak.
Mullah Nasruddin membuka kantong dan memberikan dua genggam kenari kepada seorang anak, segenggam kepada yang lain, hanya dua butir kenari kepada anak yang ketiga dan satu butir kepada anak keempat.
"Pembagian macam apa ini Mullah?" tanya anak-anak keheranan.
"Ya, inilah cara Tuhan!" jawab Hodja, "Beberapa orang diberi banyak, beberapa orang lagi sedikit, dan tidak sama sekali kepada yang lainnya. Jika kalian meminta cara makhluk hidup aku akan berikan sama banyaknya untuk setiap orang."
                                    (SBNH:38)
    Maksim pelaksanaan tetap dipatuhi Nasruddin dalam cerita ini. Dia menjelaskan dengan jelas, runtut, dan tidak taksa pertanyaan anak-anak atas apa yang telah diperbuatnya. Anak-anak memilih pembagian dengan cara Tuhan karena anak-anak mengira nanti pasti pembagian kenari tersebut adil karena mereka tau Tuhan itu Mahaadil. Selesai Nasruddin membagikan kenari pada setiap anak, mereka bertanya kepada Nasruddin karena pembagian tidak sesuai yang mereka kira. Kemudian Nasruddin menjelaskan bahwa pembagian yang tidak merata itulah yang disebut pembagian cara Tuhan. Nasruddin menyamakan pembagian kenari itu dengan cara Tuhan membagikan rizki kepada manusia. Tuhan membagikan kepada sebagian manusia dengan rizki yang banyak sekali yang disebut si kaya, sebagian manusia lagi diberi rizki yang sedang-sedang saja, dan sebagian yang lain diberi rizki yang sedikit atau disebut si miskin. Begitupun cara Nasruddin membagikan kenari kepada anak-anak. Andaikan anak-anak tadi meminta pembagian cara manusia maka, Nasruddin akan membagikan kenari itu sama banyaknya pada masing-masing anak karena keinginan manusia selalu merata dalam setiap pembagian. Ada dua maksud yang ingin disampaikan Nasruddin lewat cerita di atas. Pertama, Nasruddin ingin menyampaikan arti adil yang disandang Tuhan. Adil bukan berarti pembagian itu sama banyaknya atau merata. Adil adalah pembagian sesuai kebutuhan dan kemampuan. Kedua, cerita di atas adalah ekspresi Nasruddin atas kemiskinan yang dia rasakan sekarang. Tuhan memberikannya rizki yang sedikit sehingga dia hidup dalam keprihatinan, sedangkan yang lain diberikan rizki yang banyak bahkan berlebihan. Kedua maksud itulah yang dapat disimpulkan dari cerita di atas. Kelucuan sekaligus pelajaran yang baik dimunculkan Nasruddin dengan tetap mematuhi maksim pelaksanaan.
Selanjutnya, kalau dilihat pada data "Toko Serba Ada", "Penyelundup", dan "Kakiku yang Sebelah Kiri Belum Berwudhu" setiap peserta percakapan disiplin dengan maksim pelaksanaan. Setiap peserta berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa, secara runtut dan tidak berlebih-lebihan. Namun pada data "Satu Sen Hilang" terlihat Nasruddin tidak lagi mematuhi maksim pelaksanaan. Dia memberikan jawaban yang sifatnya taksa. Pada data "Besok Suaranya Terdengar" dan "Nasruddin di Liang Lahat" Nasruddin memberikan jawaban yang sifatnya kabur atau tidak jelas. Dilihat dari beberapa cerita di atas, Nasruddin disiplin ataupun melanggar maksim pelaksanaan dia tetap bisa menciptakan kelucuan di setiap cerita.

KESIMPULAN
Salah satu kaidah berbahasa adalah seorang penutur harus selalu berusaha agar tuturannya selalu relevan dengan konteks, jelas, dan mudah dipahami sehingga lawan tuturnya dapat memahami maksud tuturan. Demikian pula dengan lawan tutur, ia harus memberikan jawaban atau respons dengan apa yang dituturkan oleh penutur. Bila keduanya tidak ada saling pengertian maka tidak akan terjadi komunikasi yang baik. Oleh sebab itu diperlukan semacam kerja sama antara penutur dengan lawan tutur agar proses komunikasi itu berjalan secara lancar.
Kenyataan membuktikan, di dalam percakapan sehari-hari tidak jarang kita temukan praktik-praktik pelanggaran terhadap maksim-maksim Grice tersebut. Akan tetapi, bagi pengamat pragmatik, justru pelanggaran-pelanggaran itulah yang menarik untuk dikaji: mengapa penutur melakukan pelanggaran terhadap maksim tertentu, ada maksud apa di balik pelanggaran maksim tersebut? Misalnya, mengapa penutur yang bermaksud meminjam uang atau memerlukan bantuan kepada mitra tutur biasanya diawali dengan menceritakan secara panjang lebar keadaan dirinya seraya disertai dengan janji-janji? Apakah itu berlaku secara universal? Bukankah tindakan tersebut melanggar maksim kuantitas? Pada intinya, untuk memenuhi komunikasi secara wajar dan terjadi kerja sama yang baik, maka dalam komunikasi harus memenuhi prinsip (maksim).
Kepatuhan dan pelanggaran yang dilakukan Nasruddin terhadap maksim-maksim percakapan adalah disengaja sebagai bentuk penyaluran kreativitas dan imajinatif untuk memperoleh keunikan yang mengundang senyum, tawa, dan ketidakterdugaan bagi pembacanya.

DAFTAR REFERENSI
Tarigan, Henry Guntur. 1990. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa
Rahardi, R. Kunjana. 2005. PRAGMATIK: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga
Chaniago, Sam Mukhtar. 1997. Materi Pokok Pragmatik. Jakarta: Universitas Terbuka
Trisaparudin. 2010. Makalah Pragmatik. www.scribd.com, diakses pada 21 Maret 2010.
Hidayanti. 2009. Analisis Pragmatik Humor Nasruddin Hoja.www.docstoc.com, diakses 21 Maret 2010.

Belum ada Komentar untuk "Makalah Pragmatik “Maksim Kerjasama”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel